oleh

Seputar Solat Hari Raya Eid dan Tatacaranya

Hukum dan dalil pensyariatan Shalat Dua Hari Raya

Hukum Shalat Dua Hari Raya adalah fadhu kifayah. Bila sebagian kaum Muslimin telah menunaikannya, maka dosanya gugur dari Muslim yang lain, namun bila mereka semuanya meninggalkan maka semuanya berdosa, karena shalat ini termasuk syiar Islam yang nyata, dan karena Nabi selalu menjaganya.

Demikian juga para sahabat beliau sesudahnya. Sungguh Nabi telah memerintahkan seluruh kaum Muslimin untuk melaksanakannya, sampai kaum wanita, hanya saja beliau memerintahkan wanita yang haid agar memisahkan diri (menjauh)  dari tempat shalat.

Hal ini menunjukkan urgensi Shalat Dua Hari Raya dan besarnya keutamaannya, karena shalat itu apabila Nabi memerintahkan agar dilakukan oleh kaum wanita, -padahal pada hukum asalnya mereka bukanlah pihak yang diperintahkan berkumpul bersama kaum laki-laki-, maka kaum laki-laki lebih patut untuk diperintahkan.

Diantara ulama ada yang menguatkan pendapat bahwa Shalat Dua Hari Raya adalah fardhu ain.

Syarat-syarat Shalat Eid

Di antara syarat-syaratnya yang paling penting adalah; masuk waktu, adanya bilangan (jumlah jamaah) yang diperhitungkan, dan menetap (mukim). Oleh karena itu, tidak boleh shalat sebelum waktunya, tidak boleh kurang dari tiga orang, dan tidak wajib atas musafir yang tidak menetap.

Waktu Shalat Eid

Waktu Shalat Id seperti waktu Shalat Dhuha, yaitu setelah matahari naik seukuran tinggi tombak sampai waktu zawal, karena Nabi dan para khalifah setelahnya melakukan shalat ini sesudah matahari naik, dan karena sebelum matahari naik merupakan waktu larangan.

Disunnahkan menyegerakan Shalat Idul Adha di awal waktunya dan menunda Shalat Idul Fitri, berdasarkan perbuatan Nabi Di samping itu karena orang-orang sangat butuh menyegerakan Shalat Idul Adha untuk menyembelih hewarå kurban, sedangkan untuk Idul Fitri mereka memerlukan waktu lebih panjang sebelum shalat agar bisa leluasa memberikan zakat fitrah.

Tata cara dan bacaan dalam Shalat Eid

Tata cara Shalat Id: Dua rakaat sebelum khutbah, berdasarkan ucapan Umar “Shalat Idul Fitri dan Idul Adha itu dua rakaat dua rakaat, sempuma bukan qashar melalui lisan Nabi kalian. Dan sungguh telah merugi baarng siapa yang membuat kebohongan”.

Di dalam rakaat pertama, bertakbir enam kali setelah takbiratul ihram dan istiftah serta sebelum ta’awwudz. Di dalam rakaat kedua, bertakbir lima kali selain takbir bangkit dari sujud, yang dilakukan sebelum membaca al-Fatihah, berdasarkan hadits Aisyah yang marfu’, “Takbir di dalam Shalat Idul Fitri dan Idul Adha pada rakaat pertama adalah tujuh takbir, dan pada kedua adalah lima takbir selain dua takbir rukuk”.

Mengangkat kedua tangan bersama setiap takbir, karena Nabi, “Beliau selalu mengangkat kedua tangannya bersama setiap takbir”.

Kemudian membaca setelah istiadzah dengan jahr tanpa ada perbedaan, membaca al-Fatihah dan sesudahnya di rakaat pertama membaca Surat al-A’la, dan Surat al-Ghasyiyah di rakaat kedua, berdasarkan ucapan Samurah,

“Rasulullah membaca al-A ‘la dan al-Ghasyiyah pada (Shalat) Dua Hari Raya”.

Waktu khutbah

Waktu khutbah pada Shalat Id adalah sesudah shalat, berdasarkan ucapan Ibnu Umar, Nabiﷺ , Abu Bakar, dan Umar melakukan Shalat Dua Hari Raya sebelum khutbah”.

Sunnah-sunnahnya

1. Disunnahkan menggelar Shalat Id di tanah lapang dan terbuka, di luar desa, di mana kaum Muslimin berkumpul padanya untuk memperlihatkan syiar ini, dan bila ada udzur lalu dilakukan di masjid, maka tidak mengapa.

2. Disunnahkan menyegerakan Shalat Idul Adha dan mengakhirkan Shalat Idul Fitri, sebagaimana ia sudah dijelaskan pada pembahasan waktu shalat.

3. Disunnahkan makan beberapa kurma sebelum berangkat untuk Shalat Idul Fitri, dan hendaklah tidak makan pada hari Idul Adha sampai shalat, berdasarkan perbuatan Nabi ﷺ, beliau tidak keluar ke Shalat Idul Fitri sehingga beliau menyantap beberapa butir kurma yang beliau makan dengan jumlah ganji1 dan beliau tidak makan di hari Idul Adha sehingga beliau shalat.

4. Disunnahkan berangkat di awal waktu saat keluar untuk Shalat Id setelah Shubuh dengan berjalan kaki, dengan tujuan agar bisa dekat dengan imam dan mendapatkan keutamaan menunggu shalat.

5. Seorang Muslim disunnahkan berhias, mandi, memakai pakaian terbaik, dan memakai wewangian.

6. Disunnahkan berkhutbah pada Shalat Eid dengan tema yang memiliki cakupan luas dan universal untuk seluruh perkara-perkara agama, mengajak kaum Muslimin membayar zakat fitrah, menjelaskan kepada mereka apa yang mereka bayarkan, hendaknya kaum wanita juga mendapatkan nasihat, karena mereka juga membutuhkannya, dan hal ini dalam rangka meneladani Rasulullah karena setelah beliau shalat dan khutbah, beliau mendatangi kaum wanita, lalu menasihati mereka dan mengingatkan mereka. Dan ia terjadi sesudah shalat, sebagaimana penjelasan yang lalu.

7. Memperbanyak Dzikir kepada Allah dengan takbir dan tahlil

8. Disunahkan mengambil jalan yang berbeda saat pulang dan saat pergi dari satu jalan dan pulang dari jalan yang lain.

Sumber : Kitab Fiqih Muyassar

(rai/red) Perdana Muslim

Perdana News

Komentar

PERDANANEWS