oleh

Apakah Seorang Lelaki Menjadi Mahram Dengan Ibu Perempuan Yang dizinahinya?

Sekelumit permasalahan zina tidak berhenti hanya pada dosa yang ditanggung oleh para pelakunya, banyak hal lain yang mengubah struktur dari keaslian sebuah kenasaban. Diantaranya dalam syariah, seseorang dapat menjadi mahram bagi orang lain dengan tiga sebab, yakni sebab adanya hubungan kekerabatan (nasab), hubungan yang disebabkan oleh adanya pernikahan (mushaharah), dan hubungan yang terjadi akibat persusuan (radha’ah).

Mengenai hubungan kemahraman antara seorang lelaki dengan ibu dari istrinya (ibu mertua) itu masuk dalam kategori kemahraman dari jalur mushaharah.

Yang dimaksud dengan mahram disini adalah mahram mu’abbad, yakni (bagi laki-laki) ada beberapa wanita yang tidak boleh ia nikahi selama-lamanya. Kemahraman ini bisa terjadi dari beberapa sebab:

A. Hubungan Nasab : ibunya, anak perempuannya, bibinya, dan lainnya.

B. Hubungan Mushaharah : ibu mertuanya, anak perempuan dari istrinya, dan lainnya.

C. Hubungan Persusuan : ibu yang menyusuinya, anak perempuan dari ibu yang menyusuinya, dan lainnya.

Penjelasan mengenai mahram mushaharah, Al-Qur’an Surah An-Nisa: 22-23 menyebutkan ada empat pihak wanita yang menjadi mahram bagi seorang laki-laki, yaitu:

– Istri ayah (ibu tiri),

– Ibu mertua (ibu dari istri)

– anak perempuan dari istri (anak tiri),

– menantu wanita (istri dari anak)

Khusus mengenai kemahraman yang terjadi antara seorang laki-laki dengan ibu dari istrinya, ulama fiqih dari empat madzhab besar, yakni Al-Hanafiyyah, As-Syafi’iyyah, Al-Malikiyyah dan Al-Hanabilah bahwa kemahraman antara seorang laki-laki dengan ibu mertuanya bisa terjadi jika ia dan istrinya pernah berhubungan suami istri dengan sah. Artinya mereka pernah berjima’ setelah akad nikah yang sah terjadi. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah jilid 36, hal 213)

Akan tetapi, para ulama fiqih diatas berbeda pendapat mengenai laki-laki yang menikahi seorang wanita dengan akad nikah yang sah, lalu tak lama kemudian menceraikan istrinya, atau istrinya meninggal sebelum mereka pernah melakukan hubungan intim. Apakah dalam hal ini laki-laki itu tetap menjadi mahram mu’abbad bagi ibu mertuanya atau tidak?

Begitu juga mengenai seorang laki-laki yang pernah berjima’ atau berhubungan intim dengan seorang wanita, namun diluar pernikahan yang sah (berzina). Apakah jima’ yang pernah terjadi diantara mereka berdua itu menyebabkan di laki-laki menjadi mahram bagi ibu dari wanita yang ia zinai?

Komentar

PERDANANEWS