oleh

Teladan Shalahuddin Al Ayyubi : Jangan Putus Asa

Kita bukanlah sosok panglima tempur semodel Shalahuddin Al-Ayyubi yang merupakan sosok legendaris awalnya hanya sebagai komandan pasukan biasa, untuk ke sekian kali selalu dikalahkan pasukan Salib. Kalah.. kalah.. dan kalah, tapi tidak putus asa.

Sebelum perang Hitthin, dikisahkan Shalahuddin pernah bertempur dengan 5 prajurit saja. Luka parah dialami di bagian paha dan terseret-seret di padang pasir gurun Sinai, hingga ditemukan beberapa hari kemudian untuk dibawa ke Kairo.

Sempat linglung saking parahnya luka yang diderita, namun setelah sembuh dia membentuk kembali pasukan tempur. Tapi dapat dikalahkan kembali oleh pasukan Salib. Hingga terus berkali-kali mencoba sampai berujung pada penandatanganan perjanjian dengan pasukan Salib. Perjanjian yang sangat menyakitkan.

Baca Lainnya : Politik Memaksakan, Rayat Sebagai Budak Penghambaan

Tapi dia tak putus asa ketika menanyakan kepada Syaikhnya, mengapa dia masih bisa selamat padahal sempat ditinggalkan pasukannya? Syaikh menjawab dengan penuh percaya diri “Allah hendak menjadikanmu meraih sesuatu yang tidak bisa diraih oleh selainmu. Maka Allah menjagamu dengan kemampuanmu melarikan diri.

Jika menilik kisah Shalahuddin, ada tiga masalah sulit yang selaras kita hadapi saat ini: Pertama, menginjeksi ide-ide dan narasi besar ke dalam benak dan imajinasi orang lain. Kesulitan pertama lebih didasari kepada “kondisi masing-masing pribadi” yang belum menjadi samudera ilmu, kemudian belum memiliki karya pemikiran fenomenal yang diserap publik.

Kedua, belum bisa mencukupi orang lain. Kesulitan kedua ini memang harus memiliki akses ke seluruh akses sumber ekonomi, sehingga apapun kondisi bangsa dan umat, tetap untung dan untung.

Ketiga, tidak punya keberanian menghadang laju kezhaliman terhadap Islam dan umat Islam, yang secara terstruktur, massif, yang terus menerus dipojokkan.

Kesulitan ketiga lebih didasari pada minimnya pengalaman lapangan, usai sebelumnya hidup dalam remah-remah pembinaan yang hanya heroik di tataran ide, namun ternyata diselewengkan para pemangku kebijakan yang mentahbiskan diri sebagai pemangku kepentingan.

Cita-cita kita semua sampai saat ini tentu berjuang membebaskan Al-Aqsha dari penjajahan Israel atau menjadi donatur tetap untuk membantu siapapun yang memperjuangkannya. Kita tidak boleh putus asa.

Oleh : Dr Nandang Burhanudin

Editor : Redaksi MPN

PERDANA NEWS MUSLIM

Komentar

PERDANANEWS