oleh

Politik Memaksakan : Rakyat Budak Penghambaan

Di Mesir, kalangan oposisi menyebut buzzer atau pro kudeta dengan sebutan ‘abiid al-bayaadah : budak combat boats (dari sepatu militer/polisi). Sebagai negara yang dijuluki Republik Para Perwira, Republik Kepolisian dan Militer, dimana Politik hanya sebatas alat agar rakyat biasa harus menghamba agar bisa sedikit menghirup kebebasan.

Polisi, Militer berada diatas hukum bahkan mereka adalah hukum itu sendiri, semua ini berkat politik yang memaksakan kenyataan. AS, UE, PBB, Liga Arab melanggengkan istilah Fait Accompli, yaitu sebuah ungkapan dalam bahasa Perancis, yang berarti, “sudah dilakukan.”

Kata ini pertama kali muncul pada tahun 1845 sekaligus istilah yang mengilhami berdirinya negara Israel di tanah milik bangsa Palestina.

Fait Accompli adalah istilah politik dengan sistem menerima politik kenyataan, contohnya menerima kehadiran Israel di Palestina, meratifikasi perjanjian, dan melupakan hak mendasar sebagai pribumi dan Israel bukan penjajah.

Politik memaksakan kenyataan adalah gaya semua negara-negara kuat seperti China dengan kekuatan ekonomi, teknologi dan kini militernya dewasa kini memaksakan politik kenyataan di LCS, Morowali, perbatasan Taiwan, Tibet dan Uighur.

Amerika, Perancis, Inggris, Turki, dan Rusia semuanya sama. Namun hanya Turki yang melakukan politik Fait Accompli, pelaksanaannya tercatat tidak brutal seperti negara-negata kuat lainnya.

Turki menjujung humanisme kental dan hal ini dirasakan rakyat Libya, Azerbaijan, Syiria, Cyprus Turki, Qatar, Somalia.

Politik kenyataan kini menjadi gaya para diktator, kaum otoriter dalam menindas rakyat. Menyasar kebijakan harga-harga, proyek-proyek siluman, kongkalingkong lembaga Pemilu, permainan hukum di semua ranah yang dilakukan kepolisian, kejaksaan, kehakiman, hingga di lembaga terhormat DPR-MPR-KPK. Semua mendapat restu dari kaum agamawan.

Persis seperti yang dikatakan oleh Syaikh Al-Ghazali “Setiap ajakan yang mengajak manusia agar toleran dengan kefakiran, atau ridha atas keadaan hidup tak berkualitas, atau pasrah menjalani kehidupan yang hina, atau ajakan agar sabar pasrah menerima perlakuan nista dan rela dilecehkan, adalah ajakan kejahatan dan kesewenangan.

Targetnya tidak lain yaitu melanggengkan kezhaliman sosial dan menjerumuskan publik agar menjadi budak pelayan bagi individu atau kelompok elit tertentu. Ajakan ini jika atas nama Islam maka adalah ajakan yang penuh dusta, menjual Islam dan merekayasa kebohongan atas nama Allah.”

Anda pun akan bertanya, apa solusinya? Jawabannya, akal sehat dan sikap tegas menolak politik fait Accompli oleh dan dari siapapun.

Oleh : Dr. Nandang Burhanudin

Perdana News Group

Komentar

PERDANANEWS