oleh

Ada Aib Kefakiran Yang Selalu Kita Banggakan

Ada aib yang selalu kita banggakan yaitu aib kefakiran, sebuah elegi setiap kali melakukan perjalanan dengan Bus, saya merenung, dari ribuan bus yang lalu lalang, tidak ada satupun yang saya miliki.

Dari jutaan hektar tanah, jutaan pabrik, jaringan warung modern, hingga perusahaan barang elektronik, gedung pencakar langit, tidak satupun saya miliki.

Obsesi tentang dunia, menjadi crazy rich, terkubur di ruang sempit zuhud, larangan hubbuddunya, atau pemikiran Qadariyyah, bahwa menjadi miskin itu anugerah.

Di sisi lain, perilaku beberapa kaum kaya Muslim dipertontonkan secara brutal : borju, permisif, hedon, dan berhenti sebatas pada kemewahan.

Sibuk kumpulkan harta, tidak tahu atau pura – pura tidak tahu bahwa di balik setiap dollar yang dia kumpulkan, ada kewajiban untuk membela agama, bangsa dan negara.

Sebabnya ada dua klub ekstrim, pertama disebabkan kekeliruan mengaktualisasikan dalil dan yang kedua, ketidakpeduluan dengan bimbingan dalil.

Sewaktu SMP, saya sempat memprotes ceramah Kyai yang selalu menyindir insan-insan pedesaan yang sibuk bertani, berdagang, atau menjadi kuli di perkotaan.

Namun ketika datang waktu berzakat, proposal pembangunan pesantren, atau idhul qurban, masyarakat yang didoktrin untuk mengaji sepanjang waktu itupun dikritik karena berinfak hanya alakadarnya.

Narkoba jenis baru yang melalaikan Muslim dari menjadi kaya, menikmati kefakiran, bangga dengan kemiskinan, senang dengan posisi objek penderita, sombong dengan kemalasan.

Seperti tidak pernah disampaikan kajian tentang konglomerat utama Muslim semisal Utsman bin Affan, kedermawanan Thalhah, asset properti yang dimiliki Zubair, bisnis ekspor impor Abdurrahman bin Auf, atau sedekah ultima Ibn Abi Waqqash.

Bahkan seperti tidak pernah disampaikan doa isti’adzah Baginda terhadap kekufuran dan kefakiran, bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, bahwa mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah.

Maka yang terjadi mudah ditebak adalah umat Islam menjadi buih produk semua raksasa ekonomi global.

Para Kyai dan ulamanya, menghambakan diri dan rela menukar agama plus umat dengan jabatan sekedar Komisaris, Menteri, pejabat publik.

Semua dibeli dengan harga murah tak seberapa. Lalu yang dulu berteriak zuhud dan qana’ah, ketika menjabat, menolak pensiun jika bisa seumur hidup.

Oleh : Dr. Nandang Burhanudin

(Mendidik Diri 129)

Perdananews Group

Komentar

PERDANANEWS