oleh

Bacalah, Naiklah! Keutamaan Bagi Ahlul Quran

PERDANA MUSLIM – Kita tentunya memiliki harapan besar atas kemajuan umat dan bangsa Indonesia kepada para generasi muda untuk mengestafetkan kepemimpinan yang ada saat ini kedepannya. Fenoma menjamurnya lembaga pesantren maupun tahfizh al quran tentunya kita harus sambut baik karena sudah seharusnya bisa melahirkan generasi al quran yang baik dan membawa label negeri ini sebagai baldatun thoyyibatun waa rabbun ghofuur .

Tercatat dalam pusat data statistik Pendidikan islam Kemenag kategori pondok pesantren di 34 provinsi sebanyak 28.518 lembaga pesantren dengan 4.354.245 santri yang terdaftar di semester ganjil 2020/2021. Segala puji bagi Allah yang senantiasa mengeksistensikan islam di Indonesia ini.

Tapi bukan berarti generasi pengahafal alquran hanya berada sebatas dari pondok pesantren dengan label santri, data diatas disispkan hanya sebatas motivasi bagi kita semua untuk lebih mencintai dan menjadi bagian dari ahlul quran.

Lantas apa yang membuat para ahul quran begitu dikhususkan bahkan jika kita memperhatikan para dai ulama Indonesia selalu menjungjung tinggi mengajak mencintai al quran salah satunya seperti yang biasa kita dengar dari sesosok almarhum Syeikh Ali Jaber.

  • Keutamaan Ahlul Quran

Banyak keutamaan yang bisa didapatkan khusus bagi penghafal alqur’an saja, salahsatunya adalah pemaparan dari sebuah hadist Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mengenai keadaan penghafal alqur’an ketika memasuki syurga nantinya.

Dari Abdullah bin Umar rodiyallhu anhuma berkata bahwasannya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda : “Dikatakan kepada shohibul qur’an, bacalah dan naiklah. Bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia. Karena tempatmu adalah di akhir ayat yang engkau baca”. (Hadist Riwayat Tirmidzi 2914 dan Abu Daud 1464)

Bacalah dan naiklah!, begitulah potongan dari isi hadist Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tentang kemulian bagi sohib alqur’an. Sudah pasti redaksi maksud dari apa yang ada dalam hadist ini merupakan sebuah gambaran khusus bagi sohib alqur’an ketika mereka memasuki surga, mereka akan diminta untuk membaca kembali ayat demi ayat dari alqur;an yang biasa mereka baca dan amalkan ketika di dunia.

Karena yang dimaksud dari kalimat Shohibul Qur’an dalam hadist ini menurut Syeikh Abdur Razzaaq Albadr mereka adalah manusia yang senantiasa membacanya dan mengamalkannya ketika didunia, bukan hanya sekedar membacanya namun tidak disertai dengan pengamalannya, tentunya kesempatan ini hanya bisa didapatkan oleh para ahlul qur’an atau huffazh yaitu para penghafal alqur’an dengan syarat menghafalnya karena Allah semata bukan perkara karena dunia ataupun yang lainnya.

Para sohibul qur’an diminta untuk membacakan kembali ayat – ayat alquran yang biasa mereka baca di dunia dengan tartil, makna tartil disini yaitu sesuai kaidah cara membaca dengan ilmu tajwid yang mana tajwid ini merupakan urgensi bagi masing masing individu karena sesuai bait dari sebuah matan jazary dikatakan “membaca alqur’an dengan tajwid hukumnya wajib dan barang siapa yang membacanya namun tidak dengan tajwid maka ia bedosa”.

Memang mempelajari ilmu tajwid merupakan fardhu kifayah namun membaca alqur’an dengan ilmu tajwid hukumnya wajib, makna tartil memiliki beberapa tingkatan yaitu dengan tempo lambat, sedang dan cepat dengan catatan tidak menafikan hukum – hukum tajwid yang lainnya.

Mereka para sohibul qur’an diminta untuk membaca kembali alqur’an yaitu dengan tujuan untuk menunjukan manzil atau tempat kedudukan mereka di surga nanti yaitu sesuai dengan ayat terakhir yang mereka baca. Para sohibul qur’an akan senantiasa terus naik dan naik hingga mencapai derajatnya yang paling tinggi sesuai dengan ayat yang mereka baca.

Peristiwa seperti ini rosulullah ﷺ gambarkan dalam hadistnya dengan tujuan memperlihatkan keutamaan para ahlul qur’an dihadapan Allah, seperti dalam kutipan sebuah hadist “Ahlul qur’an hum ahlullah wa khossotuh” para ahli qur’an merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya.(HR. Ahmad)

Ketika objek dalam hadist ini hanya mengkhususkan bagi para sohibul qur’an atau penghafal alqur’an, maka apakah golongan yang lainnya tidak bisa mendapatkan derajat yang tinggi di surganya nanti seperti yang digambarkan dalam hadist ini?

Komentar

PERDANANEWS